Feeds:
Tulisan
Komentar

Keracunan vitamin A secara kronik dapat mempengaruhi tulang dan metabolisme mineral. Asam retinoat, metabolit aktif dari vitamin A, dapat menstimulasi pembentukan dan aktivitas osteoklas, menyebabkan peningkatan resorbsi tulang dan pembentukan reaksi periosteal. Hiperkalsemia juga dapat diamati. Peningkatan resorbsi tulang telah dapat dihubungkan pada kejadian fraktur di tikus. Reaksi periosteal tulang menyebabkan hiperostosis yang khas di metakarpal, metatarsal dan tulang panjang lainnya seperti ulna, tibia dan fibula. Reaksi periosteal yang mengantikan tulang panjang terlihat dari lakula osteosit yang besar, merupakan karakteristik keracunan vitamin A, telah diamati pada fosil homo erectus yang ditemukan di Kenya dan dihubungkan dengan kebiasaan makan hati karnivora

Beberapa kelompok peneliti telah mengamati kemungkinan diet vitamin A berlebih berhubungan dengan menurunnya bone mineral density dan meningkatnya resiko fraktur panggul

Melhus dkk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi penyebab tingginya insiden fraktur panggul di Swedia dan Norwegia. Survey epidemilogi awal menunjukan bahwa intake vitamin A di Skandinavia 6x lebih tinggi dibandingkan Eropa Selatan. Penelitian Melhus dkk merupakan penelitian cross sectional mengenai bone mineral density dan case kontrol untuk insiden fraktur panggul. Dengan analisa multivariat dengan variabel seperti Indeks massa tubuh, intake kalori, tingkat aktivitas fisik, status merokok, status estrogen dan pengunaan estrogen, intake vitamin A secara bermakna berhubungan dengan bone mineral density dari tulang lumbal, leher femoral dan trochanter, begitu juga dengan total body bone mineral density. Bone mineral density 10 persen lebih rendah pada orang dengan intake vitamin A melebihi 1,5 mg setiap harinya dibandingkan dengan orang intake kurang 1,5 mg. Relative risk fraktur panggul adalah 2,1 untuk orang yang intake vitamin A melebihi 1,5 mg setiap harinya dibandingkan dengan intake kurang 0,5 mg setiap harinya

Data tersebut dikonfirmasi dari laporan Nurse health study, dimana total intake vitamin A setara atau lebih dari 1,5 mg setiap hari memiliki relative risk fraktur panggul 1,64 dibandingkan dengan orang yang intake vitamin A nya kurang dari 0,5 mg setiap hari. Di sisi lain, intake beta karoten tidak bermakna dalam meningkatkan resiko fraktur panggul

Pada studi Rancho Bernado, didapatkan asosiasi U terbalik antara intake vitamin A dengan bone mineral density. Dalam penelitian itu diketahui bahwa bone mineral density optimal bila intake vitamin A antara 2000 – 2800 IU perhari (0,6-0,9 mg perhari) mengindikasikan bahwa intake vitamin A rendah atau tinggi dapat mempengaruhi kesehatan tulang. Rekomendasi intake vitamin A terkini adalah 0,7 mg perhari buat wanita, dan 0,9 mg perhari buat pria. Intake maksimal yang dianggap masih aman adalah 3 mg perhari. Pada laporan Nurse health study 21 persen partisipan mengkonsumsi vitamin A lebih dari ini

Michaelsson dan kerabatnya di Swedia memberi data lanjutan mengenai efek vitamin A pada tulang secara jangka panjang. Mereka melakukan studi prospektif dari 2322 pria dimana serum retinol dan tingkat betakaroten diukur pada garis dasar. Selama 30 tahun kemudian, fraktur dilaporkan pada 266 pria. Relative risk sebesar 1,64 untuk apapun jenis fraktur dan 2,47 untuk fraktur panggul terjadi pada orang dengan serum retinol quartil tertinggi (lebih dari 75,62 ug/dl), dibandingkan dengan serum retinol quartil tengah (62,16-67,60 ug/dl). Relative risk untuk apapun jenis fraktur sebesar 7,14 terjadi pada orang dengan serum retinol lebih dari 103,12 ug/dl
Penelitian ini menunjukan asosiasi langsung antara fraktur dan retinol serum dalam darah, walaupun retinol serum hanya diukur sekali. Seperti penelitian sebelumnya tingkat betakaroten tidak berhubungan dengan resiko fraktur. Michaelsson dkk menyimpulkan bahwa serum retinol yang tinggi (lebih dari 86 ug/dl) meningkatkan resiko terjadinya fraktur, dan ini harus dihindari. Mereka mengatakan bahwa hipervitaminosis A dapat menjelaskan mengenai tingginya insiden fraktur panggul di Skandinavia dan Amerika, dimana negara tersebut suplemen vitamin A biasa digunakan

National Helath and Nutrition Examination Survey ketiga (NHANES III) menunjukan bahwa rendahnya tingkat retinol serum (kurang dari 20,05 ug/dl) jarang pada anak anak dan dewasa, tapi dalam tingkat yang suboptimal (kurang dari 30,08 ug/dl) lebih sering pada orang kulit hitam dan anak anak Mexico-american daripada orang kulit putih. Tingat retinol serum yang tinggi (lebih dari 74,48 ug/dl) dilaporkan 5 sampai 10 persen partisipan NHANES III umumnya adalah pria lebih dari 30 tahun dan wanita diatas 50 tahun

Retinol serum meningkat sesuai dengan umur, mungkin disebabkan oleh menurunnya klirens metabolisme, sehingga orang yang tua lebih beresiko timbul hipervitaminosis A. Suplemen yang mengandung vitamin A digunakan pada 28 persen partisipan NHANES III dan dalam 46 persen wanita dan 38 persen pria di penelitian longitudinal Baltimore. Proporsi partisipan dalam Nurse Health Study yang mengunakan suplemen multivitamin meningkat dari 34 persen di 1980 menjadi 53 persen di 1996

Dapat disimpulkan berdasarkan data diatas bahwa suplemen yang mengandung vitamin A seharusnya tidak diberikan secara rutin kepada laki laki maupun perempuan dan fortifikasi sereal dengan vitamin A dipertanyakan. Di sisi lain, defisiensi vitamin A dan xeroftalmia seing terjadi pada negara Afrika dan Asia dan dihubungkan dengan anak anak malnutrisi. Suplemen vitamin A dan fortifikasi makanan dengan vitamin A telah digunakan untuk mencegah xeroftalmia tersebut, Walaupun kadang ditemukan laporan xeroftalmia di negara Barat, hal tersebut dikarenakan diet yang kurang. Oleh karena itu jendela terapi untuk vitamin A sangat sempit. Fraktur osteoporosis karena intake vitamin A berlebih menjadi resiko diantara para dewasa, terutama orang tua, dimana penyakit mata karena defisiensi vitamin A lebih sering pada anak yang malnutrisi. Penelitian dari Michaelsson dkk menyarankan bahwa suplementasi vitamin A dan fortifikasi makanan dengan vitamin A dapat berbahaya di negara Barat, dimana angka harapan hidup tinggi dan prevalensi osteoporosis meningkat

Osteoarthritis

Pendahuluan
Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronis, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan sendi (Joewono Soeroso et al., 2006)
OA adalah bentuk arthritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit melampaui separuh jumlah pasien arthritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan daripada laki laki dan terutama ditemukan pada orang orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia. OA dahulu diber nama arthritis ”yang rusak karena dipakai” karena sendi. Namun, menjadi aus dengan bertambahnya usia. Tetapi temuan temuan yang lebih baru dalam bidang biokimia dan biomekanik telah menyanggah teori ini (Joewono Soeroso et al., 2006)
Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen rawan sendi. Dengan alasan alasan yang masih belum diketahui, sintesis proteoglikan dan kolagen meningkat tajam pada OA. Tetapi, substansi ini juga dihancurkan dengan kecepatan lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kartilago tipe I mengantikan tipe II yang normal, sehingga terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanika dari kartilago. Rawan sendi kemudian kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik (Joewono Soeroso et al., 2006)

Etiopatogenesis
Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama. OA primer lebih sering ditemukan daripada OA sekunder (Woodhead, 1989; Sunarto, 1990; Rahardjo, 1994; Joewono Soeroso et al., 2006))

Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat proses penuaan yang tidak dapat dihindari. Para pakar yang meneliti ini sekarang berpendapat bahwa OA ternyata merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum jelas diketahui (Woodhead, 1989). OA ditandai dengan fase hipertrofi kartilago yang berhubungan dengan suatu peningkatan terbatas dari sintesa matrik makromolekuler oleh kondrosit sebagai kompensasi perbaikan (repair)(Brandt, 1993). OA terjadi sebagai hasil kombinasi antara degradasi rawan sendi, remodelling tulang dan inflamasi cairan sendi (Woodhead, 1989; Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Beberapa penelitian membuktikan bahwa rawan sendi ternyata dapat melakukan perbaikan sendiri dimana kondrosit akan mengalami replikasi dan memproduksi matriks baru (Woodhead,1989; Dingle, 1991; Dennis Wen, 2000). Proses perbaikan ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan suatu polipeptida yang mengontrol proliferasi sel dan membantu komunikasi antar sel. Faktor ini menginduksi kondrosit untuk mensintesis protein seperti kolagen serta proteoglikan. Faktor pertumbuhan yang berperan adalah insulin like growth factor, growth hormon, dan lainnya (Joewono Soeroso et al., 2006)

Peningkatan degradasi kolagen akan mengubah keseimbangan metabolisme rawan sendi. Kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung berakumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respon imun yang menyebabkan inflamasi sendi (Woodhead, 1989; Pelletier, 1990). Rerata perbandingan antara sintesa dan pemecahan matriks rawan sendi pada pasien OA kenyataannya lebih rendah dibanding normal yaitu 0,29 dibanding 1 (Dingle, 1991; Joewono Soeroso et al., 2006)

Pada rawan sendi pasien OA juga terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses tersebut menyebabkan penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah subkondral yang menyebabkan iskemia dan nekrosis jaringan subkondral tersebut (Ghosh, 1992). Ini mengakibatkan dilepaskannya mediator kimiawi seperti PG dan interleukin yang selanjutnya menimbulkan bone angina lewat subkondral yang diketahui mengandung ujung saraf sensibel yang dapat menghantarkan rasa sakit (Moskowitz, 1987). Penyebab rasa sakit itu dapat juga berupa akibat dari dilepasnya mediator kimia seperti kinin dan prostaglandin yang menyebabkan radang sendi (Brandt, 1987). Sakit pada sendi juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medulla spinalis serta kenaikan tekanan vena intramedular akibat stasis vena intramedular karena proses remodelling pada trabekula dan subkondrial (Moskowitz, 1987; Brandt, 1987; Joewono Soeroso et al., 2006)

Faktor resiko OA
Untuk penyakit dengan penyebab tidak jelas, istilah faktor resiko (faktor yang meningkatkan resiko penyakit) adalah lebih tepat. Secara garis besar faktor resiko untuk timbulnya OA (primer) adalah seperti di bawah ini. Harus diingat bahwa masing masing sendi mempunyai biomekanik, cedera dan persentase gangguan yang berbeda, sehingga peran faktor faktor resiko tersebut untuk masing masing OA tertentu berbeda. (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya OA, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya OA semakin meningkat dengan bertambah umur. OA hampir tidak pernah pada anak anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun. Akan tetapi harus diingat bahwa OA bukan akibat ketuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi pada ketuaan berbeda dengan perubahan pada OA (Joewono Soeroso et al., 2006)

Jenis kelamin
Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA banyak sendi, dan lelaki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada laki laki dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (setelah menopause) frequensi OA lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukan adanya peran hormonal pada patogenesis OA (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Suku bangsa
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada OA nampaknya terdapat perbedaan di antara masing masing suku bangsa. Misalnya OA paha lebih jarang di antara orang orang kulit hitam dan Asia daripada kaukasia. OA lebih sering dijumpai pada orang orang Amerika asli (Indian) daripada orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan (Joewono Soeroso et al., 2006)

Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya OA misalnya, pada ibu dari seorang wanita dengan OA pada sendi sendi interfalang distal (nodus Heberden) terdapat 2 kali lebih sering OA pada sendi sendi tersebut, dan anak anak perempuannya cenderung mempunyai 3 kali lebih sering, daripada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa OA tersebut. Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen gen struktural lain untuk unsur unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan dikatakan berperan dalam tumbulnya kecenderungan familiah pada OA tertentu (terutama OA banyak sendi) (Joewono Soeroso et al., 2006)

Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya OA baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan gternyata tak hanya berkaitan dengan OA pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga pada OA sendi lain (tangan dan sternoklavikula). Oleh karena itu disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis) diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut. Peran faktor metabolik dan hormonal pada kiatan antara OA dan kegemukan juga disokong oleh adanya kaitan antara OA dan penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan hipertensi. Pasien pasien OA ternyata mempunyai resiko penyakit jantung koroner dan hipertensi lebih tinggi dibandingkan orang tanpa OA (Joewono Soeroso et al., 2006)

Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus (misalnya tukang pahat, pemetik kapas) berkaitan dengan peningkatan resiko OA tertentu. Demikian juga olahraga yang seringkali menimbulkan cedera sendi berkaitan dengan resiko OA yang lebih tinggi. Peran beban benturan yang berulang pada timbulnya OA masih menjadi pertentangan. Aktivitas aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi OA cedera traumatik (misalnya robeknya meniskus, ketidakstabilan ligamen) yang dapat mengenai sendi. Akan tetapi selain cedera yang nyata, hasil hasil penelitian tidak menyokong pemakaian yang berlebihan sebagai suatu faktor untuk timbulnya OA. (Joewono Soeroso et al., 2006)
Riwayat penyakit
Pada umumnya pasien OA mengatakan bahwa keluhan keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang perlahan lahan

Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien berobat (meskipun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya). Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan lain. Nyeri pada OA juga dapat berupa penjalaran akibat radikulopati, misalnya pada OA servical dan lumbal. OA lumbal yang menimbulkan stenosis spinal mungkin menimbulkan keluhan nyeri di betis, yang biasa disebut claudicatio intermitten (Joewono Soeroso et al., 2006)

Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan pelan sejalan bertambahnya rasa nyeri (Joewono Soeroso et al., 2006)

Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama bahkan setelah bangun tidur (Joewono Soeroso et al., 2006)

Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang kadang terdengar) pada sendi yang sakit (Joewono Soeroso et al., 2006)
Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukan bahwa salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut dan tangan) secara pelan pelan membesar (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua pasien OA pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien OA yang umumnya tua (Joewono Soeroso et al., 2006)

Pemeriksaan fisik

Hambatan gerak
Perubahan ini seringkali sudah ada meskipun pada OA yang masih dini (secara radiologis). Biasanya bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit, sampai sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat konsentris (seluruh arah gerak) maupun eksentrik (salah satu gerakan saja) (Joewono Soeroso et al., 2006)

Krepitasi
Gejala ini lebih berarti untuk pemeriksaan klinis OA lutut. Pada awalnya hnya berupa perasaan akan adanya suatu yang patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Dengan bertambah beratnya penyakit, krepitasi dapat terdengar sampai jarak tertentu. Gejala ini mungkin timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakan atau secara pasif dimanipulasi (Joewono Soeroso et al., 2006)

Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris
Pembengkakan sendi pada OA dapat timbul karena efusi pada sendi yang biasanya tidak banyak (<100cc). Sebab lain ialah karena adanya ostefit, yang dapat mengubah permukaan sendi (Joewono Soeroso et al., 2006)

Tanda tanda peradangan
Tanda tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan) mungkin dijumpai pada OA karena adanya sinovitis. Biasanya tanda tanda ini tak menonjol dan timbul belakangan. Seringkali dijumpai di lutut, pergelangan kaki dan sendi sendi kecil tangan dan kaki (Joewono Soeroso et al., 2006)

Perubahan bentuk (deformitas) sendi yang permanen
Perubahan ini dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama, perubahan permukaan sendi, berbagai kecacatan dan gaya berdiri dan perubahan pada tulang dan permukaan sendi (Joewono Soeroso et al., 2006)

Perubahan gaya berjalan
Keadaan ini hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan. Terutama dijumpai pada OA lutut, sendi paha dan OA tulang belakang dengan stenosis spinal. Pada sendi sendi lain, seperti tangan bahu, siku dan pergelangan tangan, OA juga menimbulkan gangguan fungsi (Joewono Soeroso et al., 2006)

Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis OA ialah :
Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung badan)
Peningkatan densitas (sklerosis) tulang subkondral
Kista tulang
Osteofit pada pinggir sendi
Perubahan struktur anatomi sendi (Joewono Soeroso et al., 2006)

Pemeriksaan laboratoris
Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna. (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006) Darah tepi (Hb, leukosit, laju endap darah) dalam batas batas normal, kecuali OA generalisata yang harus dibedakan dengan arthritis peradangan. Pemeriksaan imunologi (ANA, faktor reumatoid dan komplemen) juga normal. Pada OA yang disertai peradangan mungkin didapatkan penurunan viskositas, pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan ringan sel peradangan (<8000/m) dan peningkatan protein (Joewono Soeroso et al., 2006)
Pengelolaan
Buku item interna jilid II 1210
Pengelolaan OA berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena. Pengelolaannya terdiri dari 3 hal
1. Terapi nonfarmakologis
A. Edukasi atau penerangan
B. Terapi fisik dan rehabilitasi
C. Penurunan berat badan

2. Terapi farmakologis
A. Analgesik oral non opiat
B. Analgesik topikal
C. OAINS
D. Chondroprotective
E. Steroid intraartikular

3. Terapi bedah (Joewono Soeroso et al., 2006)

Terapi non farmakologis
Edukasi
Maksud dari edukasi adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat dipakai (Joewono Soeroso et al., 2006)

Terapi fisik dan rehabilitasi
Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit (Dennis Wen, 2000; Joewono Soeroso et al., 2006)

Penurunan berat badan
Berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit OA. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat badan ideal (Joewono Soeroso et al., 2006)

Terapi farmakologis
Analgesik oral non opiat
Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. (Dennis Wen, 2000). Banyak sekali obat obatan yang dijual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit. Pada umumnya pasien mengetahui hal ini dari iklan di media massa (Joewono Soeroso et al., 2006)

Analgesik topikal
Analgesik topikal dengan mudah dapat kita dapatkan dipasaran dan banyak sekali dijual bebas. Pada umumnya pasien telah mencoba terapi dengan cara ini, sebelum memakai obat obatan peroral lainnya (Joewono Soeroso et al., 2006)

OAINS
Apabila dengan cara cara tersebut diatas tidak berhasil, pada umumnya pasien mulai datang ke dokter. Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS, oleh karena obat golongan ini disamping mempunyai efek analgetik juga mempunyai efek anti inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan usia lanjut, maka pemberiaan obat obatan jenis ini harus sangat berhati hati. Jadi pilihlah obat yang efek sampingnya minimal dan dengan cara pemakaian yang sederhana, disamping pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya efek samping selalu harus dilakukan (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Chondroprotective agent
Yang dimaksud dengan chondroprotective agent adalah obat obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi pada pasien OA. Sebagian peneliti mengolongkan obat obatan tersebut dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, superokside desmutase (Joewono Soeroso et al., 2006)

Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai kemampuan untuk menghambat kerja enzim MMP dengan cara menghambatnya, Salah satu contohnya adalah doxycylcine, sayangnya obat ini baru dicobakan pada hewan belum pada manusia (Joewono Soeroso et al., 2006)

Asam hialuraonat disebut juga sebagai viscosupplement oleh karena salah satu manfaat obat ini adalah dapat memperbaiki viskositas cairan sinovial, obat ini diberikan intra artikuler. Asam hialuronat ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan matrik tulang melalui agregasi dengan proteoglikan. Disamping itu pada binantang percobaan, asam hialuronat dapat mengurangi inflamasi pada sinovium, menghambat angiogenesis dan kemotaksis sel inflamasi, Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam topik tersendiri. (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Glikosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan, antara lain : hialuronidase, protease, elastase dan cathepsin B1 invitro dan juga dapat merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan sendi manusia. (Joewono Soeroso et al., 2006)

Kondrotin sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan kelompok vertebrata, dan terutama jaringan yang mengandung kondrotin sulfat adalah tulang rawan sendi dan zat ini merupakan bagian dari proteoglikan. Menurut Hardingham (1998), tulang rawan sendi terdiri dari 2% sel dan 98% matrix ekstraseluler yang terdiri dari kolagen dan proteoglikan. Matriks ini membentuk suatu struktur yang utuh sehingga dapat menerima beban tubuh. Pada penyakit sendi degeneratif seperti OA terjadi kerusakan tulang rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya proteoglikan pada tulang rawan tersebut. Menurut penelitian Uebelhart dkk (1998) pemberian kondrotin sulfat pada kasus OA mempunyai efek protektif terhadap terjadinya kerusakan tulang rawan sendi. Sedang Ronca dkk (1998) telah mengambil kesimpulan dalam penelitiannya tentang kondrotin sulfat sebagai berikut : efektivitas kondrotin sulfat pada pasien OA mungkin melalui tiga mekanisme utama yaitu; (1) antiinflamasi, (2) efek metabolik terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan, (3) antidegradatif melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Vitamin C, dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Pada pengamatan ternyata vitamin C mempunyai manfaat dalam terapi OA (Fife & Brandt,1992)

Superokside dismutase, dapat dijumpai pada setiap sel mamalia dan mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superokside dan hidoksil radikal. Secara invitro, radikal superokside mampu merusak asam hialuronat, kolagen dan proteoglikan sedang hidrogen peroksida dapat merusak kondrosit secara langsung. Dalam percobaan klini dilaporkan bahwa pemberian superokside dismutase ini dapat mengurangi keluhan keluhan pada pasien OA (Fife & Brandt, 1992; Joewono Soeroso et al., 2006)

Steroid intraartikular
Pada penyakit arthritis reumatoid menunjukan hasil yang baik. (Dennis Wen, 2000). Kejadian inflamasi kadang kadang dijumpai pada pasien OA, oleh karena itu kortikosteroid intra artikuler telah dipakai dan mampu mengurangi sakit, walaupun hanya dalam waktu yang singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukan keuntungan yang nyata pada pasien OA, sehingga pemakaiannya dalam hal ini masih kontroversial (Joewono Soeroso et al., 2006; David Felson, 2006)

Terapi bedah
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang menganggu aktivitas sehari hari (Joewono Soeroso et al., 2006)

Penyuntikan HA pada OA

Pendahuluan

Injeksi HA secara intraartikular, komponen mukopolisakarida visko-elastis dari cairan sinovial, semakin meningkat popularitasnya sebagai terapi OA non bedah. HA atau disebut hyaluronan atau hyaluronate adalah glikosaminoglikan dengan berat molekular tinggi, terdiri dari rantai molekul berulang dari asam glukoronat dan N-asetil-glukosamine, dan bisa ditemukan hampir di setiap jaringan ikat tubuh.Dalam persendian, HA membungkus tulang rawan sendi dan berperan sebagai lubrikan dan penyerap goncangan, HA juga berperan sebagai tulang punggung dari proteoglikan dari matriks ekstraseluler, menciptakan jalan terhidrasi dimana antar sel dapat bermigrasi. Penelitian baru baru ini juga mendukung bahwa HA meningkatkan proliferasi dan diferensiasi kondrosit. Sementara itu dalam sendi yang patologis, konsentrasi HA dalam sendi menurun hingga 33% sampai 50%, membatasi perannya dalam menjaga fungsi biomekanisme sendi normal. Tujuan dari injeksi HA intraartikular ini adalah sebagai visko-suplemen yang menggantikan HA yang hilang dan mungkin menstimulasi pembentukan HA endogen baru dalam sendi. Walaupun mekanisme pastinya belum diketahui benar, HA juga memiliki sifat anti-inflamasi, analgesik dan bahkan efek chondroprotective dalam sendi dan tulang rawan sendi (Jennifer Hart et al., 2007; Dennis Wen, 2000)
Sampai sekarang ada 5 formula injeksi HA yang diakui dan dipergunakan di Amerika. Meliputi Synvisc (r) Hyalgan (r) Supartz (r) Orthovisc (r) dan Euflexxa (r). Dari semua formula diatas berbeda dalam hal persiapan, bahan dasar, metode produksi, tatacara terapi, berat moleuker, masa paruh waktu dalam sendi, viskositas, farmakodinamik dan harga. Walaupun terapi injeksi HA intraartikular ini diindikasikan untuk nyeri pada OA lutut, penelitian terkini mendemonstrasikan bahwa pengunaan injeksi HA pada pinggang, pundak dan pergelangan kaki sama efektifnya dalam mengurangi rasa nyeri dengan pengunaan pada lutut. (Jennifer Hart et al., 2007)
Kandidat

Dengan semakin tersedianya terapi injeksi HA intraartikular ini, penentuan kandidat yang ideal menjadi penting. HA tidak diberikan kepada sembarang pasien kecuali mereka yang memiliki nyeri hebat berhubungan dengan arthritis di lutut dan gagal dengan pengunaan terapi konservatif. Sampai sekarang tidak ada asosiasi langsung antara gender, umur dan IMT dengan efektivitas visco-suplemen (Jennifer Hart et al., 2007)

OAINS telah lama digunakan sebagai terapi utama untuk OA ringan sampai sedang, tetapi dengan efek samping yang berbahaya, OAINS tidak ditoleransi baik oleh semua pasien. Terutama untuk OAINS yang nonselektif, gangguan saluran cerna lebih sering dihubungkan. Beberapa analis memperkirakan bahwa resiko timbulnya ulkus peptikum bahkan dalam terapi yang singkat (6 hari sampai 2 minggu), resikonya meningkat 16-22%. Dimana 44% dari pasien mengeluhkan dispepsia parah yang membutuhkan terapi lain. (Jennifer Hart et al., 2007)

Injeksi kortikosteroid telah juga digunakan sebagai terapi OA. Mereka biasanya ditoleransi baik, tetapi harus dibatasi tiga sampai empat injeksi pertahun dikarenakan dapat meningkatkan resiko degradasi kartilago lebih cepat bila injeksi kortikosteroid digunakan lebih sering
Unloader bracer dan terapi fisik juga berperan penting dalam mengatasi gejala dari arthritis, tetapi perannya lebih ke arah adjuvant terapi (Jennifer Hart et al., 2007)

Waktu

Waktu pemberian injeksi HA intraartikular penting untuk dipertimbangkan. Penelitian multipel menunjukan bahwa tingkat keparahan OA berhubungan bermakna dengan respon pasien dan mungkin berhubungan dengan waktu pemberiannya. Beberapa standar tingkatan OA telah diciptakan untuk menstandarisasi tingkat keparahan OA berdasarkan gambaran radiologis dari sendi yang arthritis. Kellgren dan Lawrence menciptakan standar tingkatan OA pertama pada tahun 1957. Sedangkan standar Larsen diciptakan pada tahun 1977 digunakan untuk memberi nilai kuantitas terhadap keparahan arthritis reumatoid berdasarkan radiografik yang objektif. (Jennifer Hart et al., 2007)

Standar tingkatan OA
Kellgren & Lawrence grading scale penampakan radiografik
0 normal
1 osteofit minimal, jarak ruang sendi menyempit diragukan
2 osfeofit definet,
mungkin terdapat ruang sendi yang menyempit
3 osteofit moderat, ruang sendi menyempit definet dan beberapa sklerosis dan deformitas
4 osteofit besar, ruang sendi menyempit definet dan sklerosis dan deformitas parah (Jennifer Hart et al., 2007)

Dengan mengunakan Larsen index keluaran dengan OA tingkat 1 sampai 3, mempunyai skor peningkatan subjektif lebih baik dan angka rekurensi yang lebih rendah dibandingkan dengan OA tingkat 3 dan 4 bila mengunakan injeksi HA. Penelitian lain secara retrospektif mengatakan bahwa pasien dengan tingkat I setelah mendapatkan terapi injeksi HA mengalami perbaikan hingga 91% dibandingkan dengan tingkat IV yang perbaikannya hanya 58%. Pengambilan keputusan klinis untuk pengunaan injeksi HA pada terapi OA lutut diperlukan evaluasi radiologis yang hati hati. Untuk keuntungan maksimum, pasien sebaiknya dikonsulkan untuk diterapi injeksi HA sedini mungkin dari OA nya (Jennifer Hart et al., 2007)

Indikasi

Dari semua indikasi yang dibahas disini, sebagian besar injeksi HA intraartikular digunakan hanya pada sendi lutut, sebenarnya efektifitas injeksi HA ini tidak hanya berlaku pada lutut, tetapi berlaku untuk semua sendi sinovial dengan OA. Banyak formula dari isi injeksi HA intraartikular sekarang sedang diteliti pengunaannya pada sendi lain dalam rangka perluasan indikasi dalam terapi OA di sendi lain seperti bahu, pinggang dan pergelangan kaki (Jennifer Hart et al., 2007; Gina Brockenbrough, 2006)

Penelitian lain mengunakan model binatang digunakan untuk memperluas indikasi penyuntikan HA intraartikular dalam bidang ortopedik. Salah satu penelitian memeriksa efek dari injeksi HA pada graft osteokondral dimana terdapat efek positif dalam survival dari kondrosit. Penelitian binatang lain meneliti efek HA pada meniscus, dan menemukan bahwa proses penyembuhan dari robekan periferal lebih cepat dan memfasilitasi remodeling setelah meniscectomi pada lutut. Efek perlindungan baik pada meniskus dan kartilago sendi telah ditunjukan dengan model dimana dilakukan pemberian luka cukup parah pada meniskus, mensugestikan bahwa injeksi HA intraartikular dapat menurunkan progresifitasan dari OA pada lutut yang “at risk” tersebut (Jennifer Hart et al., 2007)

Tentu saja, lebih banyak penelitian yang dibutuhkan untuk membuktikan hal diatas, tapi sejauh ini keluarannya cukup menjanjikan

Efek samping

Dari banyak penelitian yang dilakukan dengan hyaluronan, rata rata efek samping biasanya rendah (umumnya no sampai tiga persen) (Dennis Wen, 2000) Tidak ada efek samping sistemik yang ditemukan dalam penyuntikan HA. Kebanyakan efek samping yang dilaporkan adalah rasa sakit lokal di tempat penyuntikan atau efusi, dimana biasanya hilang setelah satu sampai tiga hari. Laporan timbulnya pseudogout pernah terjadi. Tidak jelas apakah reaksi lokal ini disebabkan oleh HA itu sendiri atau dari prosedur injeksi. Tidak ada efek samping jangka panjang yang dilaporkan (Dennis Wen, 2000)

Teknik
Penyuntikan HA dilakukan secara berkala setiap minggu. Rekomendasi terkini dilakukan sampai tiga atau lima kali penyuntikan (Jennifer Hart et al., 2007; Dennis Wen, 2000; Kate Grossman, 2006). Walaupun penelitian sedang dilakukan untuk meneliti apakah penyuntikan lebih sedikit sama efektifnya. Tapi data penelitian yang solid belum ditemukan untuk mengubah rekomendasi penyuntikan yang sekarang. (Jennifer Hart et al., 2007) Penyuntikan dapat diulang enam bulan kemudian (Dennis Wen, 2000)

Sendi lutut dapat disuntikan dalam beberapa cara. Satu pendekatan dilakukan dengan berbaring terlentang diatas meja pemeriksaan dengan lutut difleksikan 90 derajat. Dengan posisi ini, porsi anterior dari sendi medial dan lateral dapat dengan mudah dipalpasi dan menjadi tempat ideal untuk penyuntikan. Cara lain, lutut diekstensikan, tetap dalam posisi berbaring terlentang, kebanyakan yang dipakai adalah sudut superolateral dari patella untuk tempat penyuntikan. Dengan pendekatan ini (kaki diekstensikan) jarum diarahkan langsung ke bawah patella (Dennis Wen, 2000)

Apapun pendekatan yang digunakan, tempat dimana kita akan menyuntik dapat ditandai sebelumnya dengan ujung kuku atau dengan goresan pen. Selanjutnya, persiapan steril dengan betadin dan alkohol dilakukan. Jarum ukuran 22 sampai 25 dapat digunakan untuk penyuntikan. Anestesi lokal dengan lidokain dapat digunakan sebelum penyuntikan, tetapi dengan jarum arthrosentrik ukuran kecil anestesi tidak selalu diperlukan. Alternatif spray etil klorida dapat digunakan untuk anestesi lokal. Bila dalam penyuntikan ditemukan tahanan, arah suntikan dapat dirubah bila diperlukan. (Dennis Wen, 2000)

Jika efusi terjadi, aspirasi sendi direkomendasikan terlebih dahulu sebelum penyuntikan HA dilakukan, hal ini dilakukan untuk mencegah dilusi dari cairan HA. Aspirasi dapat dilakukan pada tempat penyuntikan yang sebelumnya sudah dijabarkan. Dalam kasus tertentu, aspirasi dapat dilakukan dengan jarum 18 atau 20. Setelah dilakukan anestesi, klem hemostat dapat dipakai untuk menstabilkan jarum, setelah jarum aspirasi dicabut, semprit berisi HA dapat dipasang pada jarum penstabil yang sama, diikuti dengan penyuntikan (Dennis Wen, 2000)

PANDUAN SINGKAT TENTANG BEKAM

Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.Perkataan Al Hijamah berasal dari istilah bahasa arab : Hijamah (حجامة) yang berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk.

Bekam merupakan pengobatan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW,sebagaimana dijelaskan dalam hadist dari ibnu abbas r.a Rasulullah bersabda : “Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.“(Hr Bukhari)

Pengobatan bekam dilakukan untuk membuang darah kotor (toksid-racun yang berbahaya dari dalam tubuh, melalui permukaan kulit atau Detoxification. Toksid / toksin adalah endapan racun zat kimia yang tidak dapat diuraikan oleh tubuh kita. Toksin ini berada pada hampir setiap orang. Toksin – toksin ini berasal dari pencemaran udara, maupun dari makanan yang mengandung zat pewarna, zat pengembang, penyedap rasa (MSG), Pemanis, insektisida sayuran dll
Anjuran Berbekam
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam besabda :

الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ

“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam bersabda :

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

“Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim)

Macam-Macam Bekam

Bekam Basah (Wet Cupping)
Yaitu metode pengeluaran darah kotor (blood letting) dengan cara disayat dengan silet, lanset, pisau bedah atau jarum steril pada bagian yang dibekam.

Cara Melakukan Bekam Basah :
Pilih titik bekam berdasarkan kondisi pasien.
Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.
Bersihkan bagian kulit yang akan dibekam dengan desinfektans/alkohol.
Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan, atau sampai piston tidak dapat ditarik lagi.
Biarkan selama 3-5 menit.
Lepas gelas bekam dan sayat bagian bekas bekam dengan silet, lanset, pisau bedah atau jarum steril.
Bekam lagi posisi yang disayat tadi.
Tunggu selama lebih kurang 3 menit sampai darah keluar dan menumpuk pada gelas bekam.
Lepas gelas bekam dan buang darah kotor yang keluar, bersihkan kembali gelas bekam dan desinfeksi.
Bekam lagi sebanyak 3-5 kali, atau sampai keluar cairan putih dari kulit.
Oles bekas sayatan dan bekam dengan minyak habbatus sauda’ (jinten hitam).
Lakukan setiap bulan atau setiap 2 minggu bagi yang penyakitnya parah.

Bekam Kering (Dry Cupping)

Yaitu metode bekam yang tidak mengeluarkan darah dari tubuh.

Cara Melakukan Bekam Kering :

Pilih titik bekam berdasarkan kondisi pasien.
Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.
Pijat bagian yang akan dibekam dengan dilumuri minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama lebih kurang 5 menit.
Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan, atau sampai piston tidak dapat ditarik lagi.
Biarkan selama 10 menit (bagi pria), 7 menit (bagi wanita) atau 3 menit (bagi anak-anak).
Lepas gelas bekam dan pijat kembali dengan minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama 2-3 menit untuk menghilangkan bercak-bercak hitam atau blister.
Lakukan selama 7 hari bagi orang dewasa dan 5 hari bagi anak-anak, kemudian diselingi masa interval selama 3 hari, lalu dilanjutkan lagi pembekaman.

Bekam Seluncur (Sliding Cupping)

Yaitu metode bekam yang mana gelas bekam diseluncurkan di atas permukaan kulit yang rata (tidak tebal ototnya). Metode ini serupa dengan Guasha (cina), scrapping (inggris) atau kerokan (jawa), namun lebih aman karena tidak merusak pori-pori sebagaimana kerokan.

Cara Melakukan Bekam Seluncur :
Pilih titik bekam sebagai awalan seluncur, biasanya bagian atas pundak.
Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.
Pijat bagian yang akan dibekam dengan dilumuri minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama lebih kurang 5 menit. Oleskan minyak agak banyak sebagai pelumas
Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan kemudian gerakkan/seluncurkan perlahan-lahan sampai tampak bruise (memar) kemerahan.
Lepas gelas bekam dan pijat kembali dengan minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama 2-3 menit.

Bekam Cepat (Flash Cupping) atau Bekam Tarik

Yaitu metode bekam dengan cara tarik lepas – tarik lepas secara cepat pada bagian kulit yang sukar dibekam, atau apabila dibekam gelas cenderung jatuh. Area ini biasanya di sekitar wajah dan dahi.

Cara Melakukan Bekam Cepat :
Pilih titik bekam pada dahi atau bagian yang nyeri.
Pilih gelas bekam (cup) yang proporsional dengan lebar dahi (tidak terlalu besar).
Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki secukupnya kemudian lepas.
Lakukan hal ini secara berulang-ulang sampai kulit berwarna kemerahan.

Diagnosis Penyakit Dengan Bekam
Diagnosa bekam/cupping dapat dilihat dari warna pigmen kulit setelah pembekaman. Di dalam buku “Canon of Internal Medicine” dikatakan, “Kondisi organ internal (organ dalam) dapat diketahui dengan cara mengobservasi (mengamati) gejala-gejala eksternal dan tanda-tanda fisik, sehingga penyakitnya dapat didiagnosa.”

Reaksi pigmen pada kulit bekas bekam adalah sebagai berikut :

Bekas bekam yang muncul berwarna ungu kegelapan atau hitam, pada umumnya hal ini mengindikasikan kondisi defisiensi (kekurangan) pasokan/suplai darah dan channel/saluran (pembuluh) darah yang tidak lancar yang disertai dengan keberadaan darah statis (darah beku).
Bekas bekam yang muncul berwarna ungu disertai plaque (bercak-bercak), pada umumnya hal ini menandakan terjadinya gangguan/ kelainan gumpalan darah yang berwarna keunguan dan adanya darah statis (darah beku).
Bekas bekam yang muncul berbentuk bintik-bintik ungu yang tersebar dengan tingkatan warna yang berbeda (ada yang tua dan ada yang ungu muda). Hal ini menandakan kelainan “Qi” dan darah statis.
Bekas bekam yang muncul berwarna merah cerah, biasanya hal ini menunjukkan terjadinya defisiensi “Yin”, defisiensi “Qi” dan darah atau rasa panas yang dahsyat yang diinduksi oleh defisiensi “Yin”.
Bekas bekam yang muncul berwerna merah gelap, hal ini mengindikasikan kondisi lemak di dalam darah yang tinggi disertai dengan adanya panas patogen.

Bekas bekam yang muncul berwarna agak pucat/putih dan tidak hangat ketika disentuh, hal ini mengindikasikan terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen.
Adanya garis-garis pecah/ruam pada permukaan bekas bekam dan rasa sedikit gatal, hal ini mengindikasikan kondisi adanya wind (lembab) patogen dan gangguan gas patogen.
Munculnya uap air pada dinding bagian dalam gelas bekam, menandakan kondisi adanya gas-gas patogen pada daerah tersebut.
Adanya blister (lepuhan/lecat) pada bekas bekam, menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam bekam
Pastikan bahwa gelas bekam sudah steril dan higinis sehingga aman untuk bekam (terutama bekam basah).
Untuk pasien yang belum pernah dibekam sebelumnya, pilihlah gelas bekam dari yang terkecil lalu ke yang besar supaya tidak terlalu sakit.
Posisi bekam dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring menelungkup. Posisi duduk lebih baik untuk peredaran darah, namun bagi pasien yang lemah dianjurkan dengan posisi berbaring.
Untuk pasien yang baru dibekam, sering-seringlah menanyai bagaimana keadaannya, apakah merasa mulas, pusing, mual atau adanya tanda-tanda akan pingsan lainnya. Segera hentikan bekam apabila pasien mengeluh kesakitan.
Setelah bekam dihadapkan beristirahat yang cukup. Sebagian pasien segera merasa segar badannya setelah berbekam pada bagian punggung dan lutut, sehingga ia tidak mau beristirahat sebagaimana mestinya, hal ini dapat menyebabkan kembalinya penyakit.
Sebagian orang merasakan suhu badannya naik setelah 1-2 hari setelah berbekam, hal ini adalah normal dan akan segera hilang.
Pasien yang menderita sakit menular atau infeksius agar diberikan perhatian khusus. Bagi penderita penyakit infeksius, diharap gelas bekamnya adalah tersendiri (single use) dan juru bekam dianjurkan menggunakan pelindung tubuh seperti sarung tangan karet (gloves), masker dan semisalnya.
Pasien yang menderita tekanan darah rendah harus diperlakukan ekstra dan hati-hati. Tingkat kesadarannya selalu dimonitor agar tidak pingsan. Dihindarkan membekam pada areal punggung bawah yang sejajar dengan pusar ke bawah, karena hal ini bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat.
Permukaan kulit yang timbul blister kecil, bercak-bercak, noda darah dan darah stasis adalah reaksi normal setelah bekam. Apabila blister yang timbul banyak dan besar-besar (seperti luka bakar), maka dapat dipecah dengan cara menusukkan jarum steril kering hingga keluar cairannya (cairan limfoid) lalu didesinfeksi dengan desinfektans. Lebih dianjurkan apabila bekas bekam yang berblister ini dipijat lembut dengan minyak zaitun atau jinten hitam.
Pasien yang mengalami mental stres, ketakutan, mual dan gejala mental lainnya, dihentikan pembekaman dan pasien disuruh berbaring relaks, tenang dan diberi minum dengan minuman manis (lebih baik madu) kemudian dimotivasi dan disugesti untuk menghilangkan atau meminimalisir gangguan mentalnya.

Larangan-Larangan Bekam

Tidak dianjurkan melakukan bekam basah pada penderita diabetes kecuali juru bekam yang ahli dan berpengalaman.
Jangan membekam orang yang fisiknya sangat lemah atau orang yang kelelahan (overfatigue).
Jangan membekam orang yang menderita penyakit kulit merata atau menderita alergi kulit yang parah seperti ulserasi dan edema.
Jangan membekam orang yang sudah jompo yang lemah fisiknya dan anak-anak yang tubuhnya lemah atau di bawah 3 tahun.
Penderita leukimia (kanker darah) tidak dianjurkan untuk dibekam basah.
Penderita hepatitis yang parah, TBC aktif, hemofilia, malignant anemia, trombositopenia dan penyakit lainnya yang parah tidak dianjurkan dibekam kecuali kepada juru bekam yang ahli dan berpengalaman.
Jangan memberkam pada kondisi : perut kekenyangan, kehausan, kelaparan, kelelahan, setelah beraktivitas berat, tubuh lemah dan tubuh demam (kedinginan).
Jangan membekam wanita hamil pada usia kehamilan 3 bulan pertama (trimester awal).
Jangan membekam langsung pada daerah yang luka, urat sendi robek, patah tulang, varises, tumor.
Jangan membekam wanita yang sedang haidh dan nifas.
Jangan memberkam daerah perut terlalu keras
Jangan membekam pasien yang mengkonsumsi obat pelancar dan pengencer darah semisal mengkudu, omega 3, dls.
Jangan melakukan bekam langsung setelah makan, pembekaman dapat dilakukan minimal dua jam setelah makan. Setelah bekam juga jangan langsung makan, melainkan hanya minum yang manis-manis semisal madu atau selainnya
Tidak dianjurkan melakukan pembekaman kepada orang yang menderita klep jantung, kecuali di bawah pengawasan dokter atau ahli bekam yang berpengalaman.
Jangan melakukan bekam langsung setelah mandi, terutama setelah mandi dengan air dingin. Tidak dianjurkan langsung mandi setelah bekam, melainkan setelah 2 jam. Dianjurkan mandi dengan air hangat.
Jangan membekam basah orang yang baru memberikan donor darah atau orang yang baru kecelakaan sehingga darahnya berkurang.
Jangan membekam pasien diabetes (gula darah di atas 280) kecuali oleh orang yang ahli.
Jangan membekam di area terbuka atau tempat yang dingin. Lebih baik melakukan bekam di ruang yang hangat atau bersuhu normal ruangan.

Dilarang membekam area berikut :

1.Lubang alamiah tubuh : mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus, puting susu.
2.Daerah sistem nodus limfa yang berfungsi sebagai penghasil antibodi, yaitu di submaksilari, korvikal, sudmalaonkular, aksilari, bagian detak jantung, nodus inguinalglimfa
3.Daerah yang dekat dengan pembuluh besar (big vessels).

Contoh Area Bekam :

Bahan-Bahan Alami Yang Bermanfaat saat Puasa

Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan pelakunya untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani pelakunya.

Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan seseorang. Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.

Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai aspek kesehatan, diantaranya yaitu :

* Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan,
Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat.
* Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.
* Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
* Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh,
* Memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh,
* Meningkatkan fungsi organ tubuh

Disunahkan agar berbuka puasa diawali dengan makan buah kurma, atau dengan buah-buahan dan minuman yang manis seperti madu. Ajaran ini mengandung makna kesehatan karena buah-buahan dan minuman yang manis merupakan bahan bakar siap pakai yang dapat segera diserap oleh tubuh untuk memulihkan tenaga setelah seharian tubuh tidak disuplai oleh makanan dan minuman. Glukosa yang terkandung di dalam buah-buahan dan minuman yang manis merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Glukosa efektif dibutuhkan ketika tubuh memerlukan masukan energi yang diperlukannya.

Anjuran sahur bukan semata-mata untuk mendapatkan tenaga yang prima selama menunaikan ibadah puasa, melainkan juga mengandung makna bahwa puasa perlu persiapan agar selama berpuasa produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu.

Pada waktu buka puasa dan sahur suplai gizi perlu diusahakan memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh, meliputi enam jenis zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pentingnya keseimbangan gizi sering kurang disadari karena hasilnya tidak terlihat langsung. Seseorang yang kekurangan zat gizi tertentu sama bahayanya dengan mereka yang kelebihan gizi tertentu. Makan yang seimbang baik dalam porsi maupun gizi akan mempengaruhi susunan saraf pusat dan kondisi biokimia tubuh. Makan yang seimbang adalah makan yang tidak kekurangan tetapi juga tidak berlebihan, yang disesuaikan dengan usia, kualitas dan kuantitas gerak serta kondisi tubuh.
Pada beberapa orang, pada saat puasa mempunyai keluhan seperti merasa lemas dan lesu atau stamina menurun, juga gangguan pencernaan seperti perut kembung dan gangguan lambung. Beberapa bahan pangan tertentu seperti madu, jahe, kencur, temu lawak, dan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengatasi stamina menurun, kembung, dan gangguan lambung pada saat puasa.

Berikut beberapa bahan alami yang dapat digunakan agar puasa tetap fit dan segar.

1.MADU
Khasiat : meningkatkan stamina serta mempertahankan stabilitias tubuh agar tetap sehat dan bugar, melancarkan proses metabolisme, untuk kecantikan dan awet muda, mencegah gangguan pencernaan, dan lain-lain

2.KURMA
Khasiat : meningkatkan stamina dan energi, mencegah & mengatasi anemia (kurang darah), melancarkan pembuangan, sebagai penenang (merileksasi sel otot tubuh yang tegang), mencegah pendarahan rahim.

3.JAHE (Zingiber officinale Rosc.)
Khasiat : meningkatkan stamina, mengatasi perut kembung, masuk angin, mual, muntah, sakit kepala, pusing, demam, dan lain-lain

4.TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)
Khasiat : kolesterol tinggi, meningkatkan stamina tubuh/tonikum, kurang darah, radang lambung/maag, perut kembung, dan lain-lain.

5.KENCUR (Kaempferia galanga)
Khasiat : meningkatkan stamina tubuh, menghilangkan bau mulut, radang lambung, kembung, mual, muntah, masuk angin, dan lain-lain.

6.Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas)
Khasiat : perut kembung, peluruh kentut, masuk angin, gangguan lambung

7.KUNYIT (Curcuma domestica Val.)
Khasiat /efek ; radang lambung, memperlancar pengeluaran empedu sehingga mengurangi perut kembung, mual, dan rasa begah di perut.

8.KAPULAGA (Amomum cardamomum)
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.

9.Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.

10.CENGKEH (Eugenia aromatica)
Khasiat : untuk sakit lambung, muntah karena lambung dingin, mual, kembung.

Sumber: hembing

PUASA DAN KESEHATAN
(Laili Dian Pangestuti*)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah [2]: 183).Ayat di atas menunjukkan bahwa tujuan puasa itu adalah ketakwaan kepada Allah SWT, yaitu taat dan patuh menjalankan perintah-Nya serta takut melanggar larangan-Nya. Ketakwaan menunjukkan tingkat kemuliaan seseorang, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surah Al Hujuraat [49] ayat 13.
Saat memasuki bulan suci Ramadhan, menjadi kewajiban umat Muslim yang beriman untuk menjalankan puasa. Umat Islam harus menahan lapar dan haus meski suasana siang hari begitu menyengat. Jika puasa dilandasi keimanan dan keikhalasan, maka perjuangan seharian menahan lapar dan haus tiada berarti apa-apa. Apalagi, puasa ternyata juga menyimpan sejumlah manfaat, termasuk salah satunya adalah manfaat kesehatan.
Penelitian menunjukkan, puasa sangat baik dilakukan oleh orang yang kadar kolesterol di dalam darahnya tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi secara jangka panjang bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Bila hal ini terjadi di otak, maka terjadilah stroke, dan bila terjadi di daerah jantung maka timbullah penyakit jantung. Dari hasil penelitian pula diketahui, puasa bisa meningkatkan kolesterol ‘baik’ (HDL) sebanyak 25 titik, dan menurunkan lemak trigliserol sekira 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol ‘jahat’(LDL). Bahkan, puasa juga mampu mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun (radikal bebas oksigen). Radikal bebas oksigen yang berlebihan di dalam tubuh akan mengurangi aktivitas kerja enzim, menyebabkan terjadinya mutasi, dan kerusakan dinding sel. Ada sekira 50 penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan stroke, dicetuskan dan diperparah oleh senyawa radikal bebas. Selain itu, bagi yang sehat, puasa akan mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe-2. Sebab, pada saat berpuasa, dengan sendirinya konsumsi kalori secara fisiologis akan berkurang. Hal ini akan mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Lebih jauh, hal ini akan meningkatkan sensitivitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Pengontrolan gula darah yang baik akan mencegah penyakit diabetes tipe-2.
Manfaat puasa yang lain? Masih banyak. Misalnya, mendorong terjadinya rejuvinasi (pergantian) sel-sel tubuh, membantu menurunkan tekanan darah bagi yang menderita tekanan darah tinggi. Berat badan juga akan turun, dispepsia (maag) fungsional kebanyakan akan membaik berkat puasa, penyakit kulit khususnya jamur akan lebih cepat membaik
Mengapa Rasullullah Mencontohkan Mengawali Buka dengan Buah Kurma ?
Bulan puasa adalah bulan yang penuh barokah. Segala kehangatan dan kesejukan terasa di bulan ini pula sebagian besar orang mengkonsumsi buah kurma sebagai penghilang rasa lapar selepas seharian berpuasa. Tetapi di balik rasanya yang manis itu, tersimpan berbagai manfaat yang berguna untuk kesehatan tubuh. Lantas apa sajakah manfaat kurma untuk kesehatan?
Puasa identik dengan kurma, itu kata sebagaian orang yang menyadari betapa seringnya mereka melihat orang berjualan kurma di bulan Ramadhan dibandingkan dengan buah-buahan lainnya. Mereka menganggap dengan kurma secukupnya, dapat menghilangkan rasa lapar sementara sebelum melakukan ibadah lanjutan lainnya.
Kurma yang mempunyai nama latin Phoenix dactilifera sudah dikenal sejak zaman paleolitik. Kurma merupakan sejenis tanaman palma yang banyak ditanam di daerah jazirah Arab dan sebagian orang menganggap kurma hanya hidup di padang pasir. Namun di daerah lain yang memiliki tinggal kekeringan cukup tinggi, kurma dapat pula hidup. Kini, buah yang rasanya manis itu menjadi komoditas pertanian andalan yang laku keras untuk dijual oleh bangsaa Arab, Afrika dan bahkan China.

Menurut Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, kurma memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi tubuh. “Setidaknya gula (glukosa) menjadi komponen utama dengan komposisi yang mencapai 50 persen dari seluruh kandungan buahnya,” katanya. Guru besar IPB ini juga mengatakan, kandungannya lebih besar dibandingkan buah-buahan lainnya yang hanya mencapai 20-30 persen saja.
Pada kurma yang masih lembek (matang di pohon dan belum dijemur) kandungan gulanya sekitar 60 persen. Sedangkan kurma yang telah dikeringkan kandungannya cukup tinggi, sekitar 70 persen. Kandungan gula dalam kurma memiliki daya serap yang buruk, sekitar 45-50 menit sehingga waktu untuk pengolahan menjadi nutrisi yang disalurkan ke dalam darah menjadi lumayan lama.
Buah padang pasir ini juga mengandung berbagai vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Vitamin A, thiamin, riboflavin, zat besi, vitamin B berada dalam buah kurma. Riboflavin dan niasin misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara thiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam membentuk dan memelihara kulit yang sehat. Thiamin pentingn bagi sel-sel saraf, semementara niasin menjaga fungsi normal saraf.

Mineral juga sangat banyak ditemukan dalam kurma. Magnesium dan kalium setidaknya berada dalam jumlah yang cukup bisa diandalkan untuk membantu kinerja tubuh menjadi lebih baik. “Banyak juga terkandung serat-serat seperti layaknya buah yang lainnya,” tutur Prof Ali. Menurut beliau, serat tersebut dapat membuat pencernaan menjadi baik. Kandungan kurma membuat usus menjasi lunak dan mengaktifkannya sehingga secara alamiah seseorang secara mudah dapat buang air besar.

Kurma untuk Kesehatan

Bahan-bahan alami yang telah disediakan di alam memang memiliki manfaat bagi tubuh. Begitu pula dengan kurma. Buah yang satu ini juga memiliki khasiat yang dirasa cukup ampuh untuk membuat tubuh menjadi sehat dan juga mengatasi permasalahan yang sering timbul dalam dunia kesehatan.
Kandungan kalium kurma yang tinggi, menurut Prof Ali sangat menguntungkan jantung dan pembuluh darah. Denyut nadi menjadi semakin teratur dan otot-otot menjadi kontraksi sehingga membantu menstabilkan tekanan darah. Hanya saja, kadar kalium yang tinggi tidak diimbangi dengan kadar garam yang tinggi (natrium). “Sehingga bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi) saya kira tidak cocok untuk mengkonsumsi kurma, apalagi jika mengkonsumsinya secara berlebih,” katanya. Beliau juga menambahkan kalau kalim itu juga mampu membuat kita terhindar dari kaku otot.
Potasium yang tinggi juga ada dalam kurma. Sekedar pengingat saja kalau potasium mempunyai manfaat untuk mengendalikan tekanan darah, terapi bagi mereka yang bertekanan darah tinggi, membersihkan karbon dioksida dalama darah serta memicu kerja otot dan simpul saraf.
Zat tannin yang tinggi pada kurma dapat digunakan sebagai anti diare. Kurma juga dapatdigunakan sebagai obat flu, radang tenggorokan, mengatasi mabuk serta meningkatkan trombosit dalam darah bagi mereka yang terkena demam berdarah. Caranya yaitu dengan memblender 500 gram kurma yang telah dibuang kulitnya, kemudian campur dengan lima gelas air putih sampai halus. Hasil dari blenderan tersebut diminum sebanyak satu gelas tiap satu jam selama sehari.
Mereka yang terkena sakit kepala juga dapat terobati dengan mengkonsumsi buah kurma. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata dalam kurma terdapat zat salisilat (suatu zat yang lazim dipakai sebagai bahan baku obat sakit kepala, penghilang rasa skit hingga demam). Tetapi kurma sebaiknya tidak dimakan oleh mereka yang memiliki penyakit diabetes. Bukannya membaik, kurma akan membuat kadar gula penderita diabetes yang sudah cukup tinggi menjadi lebih tinggi. “Saya juga tidak menyarankan itu,” ujar Prof Ali.
Kurma dan Bulan Puasa

Memakan kurma saat berbuka adalah sesuatu yang nikmat. Rasa manis kurma mampu menggantikan tenaga yang hilang saat matahari bepijar. Tetapi yang akan dimakan itu jumlahnya jangana terlalu banyak karena akan membuat kita cepat kenyang.”Dalam agama disarankan untuk mengkonsumsi lima buah kurma dan saya kira itu cukup,” ungkap Prof Ali.

Beliau menyarankan jumlah yang tidak banyak tersebut karena apabila kita mengkonsumsinya terlalu banyak, akan menyusahkan kita saat melakukan ibadah. Selain itu, rasa kenyang yang timbul akan membuat kita tidak angin mengkonsumsi makanan lainnya (seperti empat sehat lima sempurna) yang justru kita butuhkan sebagai pengganti ion-ion tubuh yang hilang.

Dalam beberapa literature, masih terjadi perdebatan mengenai perlu atau tidaknya kurma dikonsumsi saat sahur. Sebagian mengatakan perlu karena kandungan serat yang tinggi dalam kurma memang diperlukan saat siang menjelang. Sedangkan mereka yang beragumen tidak perlu, seperti Prof Ali mengatakan kalau serat dalam kurma membuat perut cepat sekali kenyang. Akibatnya mereka yang akan berpuasa tidak ada cadangan tenaga untuk berpuasa pada siang harinya.

Bahan-Bahan Alami Yang Bermanfaat saat Puasa :
Pada beberapa orang, pada saat puasa mempunyai keluhan seperti merasa lemas dan lesu atau stamina menurun, juga gangguan pencernaan seperti perut kembung dan gangguan lambung. Beberapa bahan pangan tertentu seperti madu, jahe, kencur, temu lawak, dan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengatasi stamina menurun, kembung, dan gangguan lambung pada saat puasa.

Berikut beberapa bahan alami yang dapat digunakan agar puasa tetap fit dan segar.

MADU
Khasiat : meningkatkan stamina serta mempertahankan stabilitias tubuh agar tetap sehat dan bugar, melancarkan proses metabolisme, untuk kecantikan dan awet muda, mencegah gangguan pencernaan, dan lain-lain

KURMA
Khasiat : meningkatkan stamina dan energi, mencegah & mengatasi anemia (kurang darah), melancarkan pembuangan, sebagai penenang (merileksasi sel otot tubuh yang tegang), mencegah pendarahan rahim.
JAHE (Zingiber officinale Rosc.)
Khasiat : meningkatkan stamina, mengatasi perut kembung, masuk angin, mual, muntah, sakit kepala, pusing, demam, dan lain-lain

TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)
Khasiat : kolesterol tinggi, meningkatkan stamina tubuh/tonikum, kurang darah, radang lambung/maag, perut kembung, dan lain-lain.

KENCUR (Kaempferia galanga)
Khasiat : meningkatkan stamina tubuh, menghilangkan bau mulut, radang lambung, kembung, mual, muntah, masuk angin, dan lain-lain.
6.Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas)
Khasiat : perut kembung, peluruh kentut, masuk angin, gangguan lambung
KUNYIT (Curcuma domestica Val.)
Khasiat /efek ; radang lambung, memperlancar pengeluaran empedu sehingga mengurangi perut kembung, mual, dan rasa begah di perut.
KAPULAGA (Amomum cardamomum)
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.
Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.

CENGKEH (Eugenia aromatica)
Khasiat : untuk sakit lambung, muntah karena lambung dingin, mual, kembung.

Sumber: hembing

Bolehkah penderita diabetes berpuasa ?
Jawaban terhadap pertanyaan No. 1 ternyata ada dua:
BOLEH, asal……….
TIDAK BOLEH, kalau..

1. Kriteria yang diperbolehkan berpuasa adalah:
1.Penderita DM yang dapat mengontrol kadar glukosa darahnya hanya dengan perencanaan makanan dan olah raga
2.Penderita DM yang memerlukan obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darahnya, dengan catatan, harus disertai adanya perubahan dalam perencanaan makanan, aktivitas fisik, dan jadwal minum obat. Dalam hal ini, sangat dianjurkan untuk menggunakan obat yang hanya perlu diminum sekali sehari, tetapi sebaiknya terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter anda.

Bagi anda yang termasuk dalam dua kriteria di atas, sesuaikanlah jadwal dan jumlah makanan saat sahur maupun berbuka puasa. Pada saat sahur sebaiknya penderita DM mengonsumsi makanan dalam jumlah yang normal, seperti pada saat sarapan.

Sedangkan ketika berbuka, porsi dan jenis makanan bisa disamakan dengan jumlah makan siang atau sedikit lebih banyak. Makanan berbuka bisa disantap langsung pada saat berbuka ataupun setelah salat maghrib. Meskipun demikian, penderita DM tidak diperkenankan langsung makan dalam jumlah yang terlalu banyak.

Diperlukan pula perubahan jadwal minum obat. Minumlah obat pada waktu berbuka puasa, sebagai pengganti obat yang biasanya diminum di pagi hari. Sedangkan dosis sore dipindahkan pada waktu makan sahur.

Perhatikan kapan penderita DM yang berpuasa boleh berolah raga. Karena olah raga dapat memengaruhi kadar gula darah, sehingga alternatif waktu terbaik untuk melakukan olah raga adalah seusai salat tarawih. Jadi, jangan berolah raga menjelang waktu berbuka, dan jenis olah raga pun sebaiknya dipilih yang ringan saja.

2. Kriteria yang TIDAK diperbolehkan berpuasa adalah:
1.Penderita yang membutuhkan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darahnya
2.Penderita yang sudah memiliki komplikasi berat seperti gagal ginjal maupun gagal jantung.
3.Anak-anak yang menderita DM juga tidak diperbolehkan berpuasa.

Resiko yang harus diwaspadai ketika menjalani ibadah puasa dan upaya mencegahnya
1.Resiko hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal) akibat tidak adanya asupan makanan selama berpuasa atau risiko hiperglikemia (kadar gula darah berlebihan) karena makan yang berlebihan setelah berbuka puasa.
2.Biasanya, hipoglikemia terjadi pada sore hari, saat menjelang buka puasa. Jika hipoglikemia terjadi, sebaiknya segeralah membatalkan puasa dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang manis seperti sirup, buah kurma, kolak, dan sebagainya. Setelah itu barulah menyantap makanan lengkap sebenarnya makanan yang dikonsumsi penderita DM selama berpuasa harus sama dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari saja, namun yang perlu diperhatikan adalah pembagian porsi makanan. Sebaiknya, setelah tarawih, pasien DM makan lagi untuk menjaga kadar gulanya. Paling tidak makan dua buah crakers.
3.Penderita diabetes memiliki kemampuan tubuh yang terbatas dalam hal pengaturan metabolisme hidrat arang, maka harus diperhatikan juga proses pengaturan jumlah kalori, jadwal makan, jadwal minum obat, serta jenis-jenis makanan yang dikonsumsi secara benar dan tepat.
4.Dalam keadaan berpuasa, melalui proses biokimia yang melibatkan sistem hormon dan syaraf, hati melakukan pelepasan cadangan glukosa (gula darah) dan membentuk glukosa baru dari sisa pembakaran dalam tubuh. Mekanisme ini memungkinkan terjadinya peningkatan kadar gula darah selama berpuasa.
5.Pada saat sahur, sebaiknya pasien DM mengonsumsi makanan dalam jumlah normal sarapan. Lalu pada saat berbuka, porsi dan jenis makanan bisa disamakan dengan jumlah makanan siang atau sedikit lebih banyak. Makanan berbuka ini bisa disantap langsung pada saat berbuka ataupun setelah shalat Magrib. Jangan makan langsung dalam jumlah terlalu banyak. Usus dan hormon yang telah berhenti bekerja selama 13 jam, jika tiba-tiba disuruh bekerja keras, akan menimbulkan rasa sakit.
6.Puasa tidak akan menyebabkan penurunan berat badan yang menyolok, sehingga makanlah dengan wajar. Penurunannya hanya sekitar 5-10 persen berat badan, karena puasa hanya berlangsung selama satu bulan. Setelah puasa selesai, berat badan bisa kembali ke berat semula.

Hal Hal yang Penting Yang Harus diingat Bagi Penderita Kencing Manis:
Penderita DM disarankan berkonsultasi dulu pada dokter dan ahli gizi. Yang juga perlu diperhatikan adalah jadwal makan yang berubah, otomatis jadwal mengonsumsi obat juga berubah.
Perubahan jadwal makan dan mengonsumsi obat ini bisa menimbulkan hipoglikemia seperti yang di atas telah dijelaskan. Obat-obatan diabetes yang biasanya diminum pagi hari diubah menjadi waktu berbuka puasa. Sedangkan dosis sore dipindahkan pada waktu makan sahur.
Untuk penderita yang gemar melakukan aktivitas olahraga, perlu memperhatikan kapan jadwal ia boleh berolahraga. Pasalnya, bisa saja olahraga malah mempengaruhi kadar gula sewaktu melaksanakan puasa sehingga alternatif waktu terbaik untuk melakukan olahraga adalah jangan dilakukan menjelang waktu berbuka, dengan asumsi bahwa kondisi gula darahnya mungkin sudah mendekati ambang di bawah 60 mg/dl. Saat yang tepat dan lebih rasional untuk berolahraga adalah seusai salat Tarawih. Jenis olahraga pun sebaiknya pilih yang ringan saja.
Selain itu, sebaiknya pasien DM sering melakukan pemantauan kadar glukosa darah. Pemantauan ini bisa menghindari pasien dari ancaman hipoglikemia. Segeralah membatalkan puasa jika terjadi hipoglikemi.
Tanda-tanda telah terjadinya hipoglikemi yang dapat diamati di antaranya adalah tampak gelisah, berkeringat dingin, bingung, gemetar, berdebar-debar, kesemutan pada lidah atau bibir dan penglihatan ganda. Bila dibiarkan berlanjut, dapat terjadi kejang-kejang sampai penurunan kesadaran. Biasanya hipoglikemi terjadi pada sore hari, saat menjelang berbuka puasa. Sebagai makanan pembatal puasa, sebaiknya dipilih makanan atau minuman yang manis seperti sirup, buah kurma, kolak, dan sebagainya. Setelah itu, baru menyantap makanan lengkap.
Penurunan kesadaran bahkan hingga tahap koma juga dapat terjadi pada keadaan hiperglikemi yang biasanya terjadi setelah berbuka puasa. Segeralah mencari pertolongan ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat. Karena pada kondisi seperti itu diperlukan intervensi medis untuk menurunkan kadar gula darah, yang tentunya tidak dapat dilakukan oleh orang awam.

Beberapa hal yang harus diperhatikan para diabetisi agar tetap sehat selama menjalani puasa antara lain:

1.Bagi Pengguna dosis obat tinggi dan lebih dari satu macam. Sebaiknya mereka ini tidak ikut puasa.
2.Menggunakan insulin lebih dari 45 unit per hari. Lebih baik juga tidak ikut puasa, karena sudah tergolong diabetes lanjut.
3.Pengidap diabetes dengan komplikasi sebaiknya tidak ikut puasa.

Yang Harus Dilakukan!
1.Konsultasi ke dokter gizi untuk menghitung jumlah kalori, pola makan dan jenis-jenis makanan yang bisa dikonsumsi.
2.Selalu kontrol kadar gula darah. Kadar normal gula darah adalah kurang dari 110 mg/dl selama puasa dan 160 mg/dl setelah dua jam makan. Jika melebihi atau di luar batas itu, sebaiknya tidak berpuasa. Pemantauan kadar gula darah juga bisa menghindari pasien dari ancaman hipoglikemia (kekurangan kadar gula dalam darah).
3.Kurangi dosis obat yang dikonsumsi sesuai ketentuan dokter.
4.Ubah jadwal minum obat. Jika biasanya meminum obat yang dosisnya lebih tinggi di pagi hari, ubah menjadi sore setelah berbuka.
5.Saat sahur disarankan minum obat berdosis rendah. Dikhawatirkan gula darah akan rendah pada pertengahan hari (siang) dan tidak kuat puasa.
6.Bagi penderita yang gemar berolahraga, sebaiknya pilih yang gerakannya ringan, dan lakukan usai salat tarawih. Jangan berolahraga menjelang berbuka. Pasalnya, saat itu kondisi gula darah sudah di bawah 60 mg/dl.

Fraktur atau patah tulang adalah retaknya tulang atau terputusnya kontunuitas jaringan tualng dan atau tulang rawan, biasanya disertai cidera di jaringan sekitarnya. Fraktur bisa bersifat patahan sebagian atau patahan utuh pada tulang yang disebabkan oleh pukulan langsung atau pelintiran. Fraktur bisa mengkhawatirkan jika terjadi kerusakan pada lempeng pertumbuhan, yaitu area tulang tempat pertumbuhan terjadi karena kerusakan pada area ini bisa menyebabkan pertumbuhan yang tidak teratur atau pemendekan pada tulang. Fraktur juga melibatkan jaringan otot, saraf, dan pembuluh darah di sekitarnya. Pada tulang anak-anak lebih mudah pulih setelah suatu fraktur terjadi dibandingkan tulang orang dewasa, karena tulang pada anak memiliki lebih banyak pembuluh darah serta lapisan pelindung yang lebih tebal dan kuat yang mengandung lebih banyak sel-sel pembentuk tulang dari pada tulang dewasa. Kemungkinan patah tulang harus selalu difikirkan setiap terjadi kecelakaan akibat benturan yang keras. Apabila ada keragu-raguan, perlakukan korban sebagai penderita patah tulang. Dalam menegakan diagnosis fraktur harus disebut jenis tulang atau bagian tulang yang memiliki nama sendiri, kiri atau kanan, bagian mana dari tulang (proksimal, tengah atau distal), komplit atau tidak, bentuk garis patah, jumlah garis patah, bergeser tidak bergeser, terbuka atau tertutup dan komplikasi bila ada. Foto rontgen biasanya bisa menunjukkan adanya patah tulang. Kadang perlu dilakukan CT scan atau MRI untuk bisa melihat dengan lebih jelas daerah yang mengalami kerusakan.Jika tulang mulai membaik, foto rontgen juga digunakan untuk memantau penyembuhan.

Klasifikasi Fraktur :
Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:
1.Fraktur komplit Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh kerteks.
2.Fraktur inkomplit Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh).

Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi:

1.Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh tulang tidak menonjol melalui kulit.
2.Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadiinfeksi

Patah tulang terbuka terdiri dari 3 derajat :
Grade I : luka kulit < 2 cm
Grade II : luka kulit > 2 cm Seperti grade I dengan memar kulit dan otot)
Grade III : luka lebar Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.

Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:

1.Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek
2.Transverse yaitu patah melintang
3.Longitudinal yaitu patah memanjang
4.Oblique yaitu garis patah miring
5.Spiral yaitu patah melingkar

Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu:

1.Tidak ada dislokasi
2.Adanya dislokasi,

yang dibedakan menjadi:

Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut
b) Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh
Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang
Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek.

ETIOLOGI
Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan mobil, olah raga atau karena jatuh. Patah tulang terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar daripada kekuatan tulang. Dengan tenaga yang sangat ringan, tulang yang rapuh karena osteoporosis atau tumor bisa mengalami patah tulang.
Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh:
1. Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang
2. Usia penderita
3. Kelenturan tulang
4. Jenis tulang.

Manifestasi Klinik :
1.Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya
2.Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
3.Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya
4.Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
5.Penurunan Sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
6.Gangguan Fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot.
7.Paralysis
Dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
8.Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.
9.Defirmitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
10.Shock Hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
11.Mobilitas Abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.

DIAGNOSIS
1.Anamesis
Bila tidak ada riwayat ( pernah mengalami patah tulang ), berarti fraktur patologis. Trauma harus terperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-rinagn trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut.
2.Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur pada multiple, fraktur pelvis, fraktur terbuka; tanda-tandasepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi.
3.Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:
a. Look, cari apakah terdapat:
1.Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, dan pemendekan
2.Functio laesa (hilangnya rasa).
3.Membandingkan ukuran panjang tulang.
b. Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan sumbu tidak dilakukan lagi karena akan menambah trauma.
c. Move, untuk mencari:
1.Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan.
2.Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan yang aktif maupun pasif.

Ciri-ciri patah tulang antara lain:
a.Situasi sekitar menimbulkan dugaan bahwa telah terjadi cedera (tulang mencuat keluar kulit)
b.Terasa nyeri yang menusuk pada area cidera
c.Terjadi pembengkakan, ini disebabkan oleh darah dan cairan tubuh lain yang mengumpul di sekitar area cidera
d.Kelainan bentuk, kadang-kadang kepatahan tulang menyebabkan bentuk yang tidak biasa atau pembengkokan dari bagian tubuh.
e.Hilangnya kemampuan gerak, penderita mungkin bisa sedikit mengerakkan bagian yang cidera, tetapi tidak bisa mengerakkan secara penuh.

Penanganan Pertama Fraktur :
Salah satu masalah yang sering dialami para korban adalah kasus patah tulang, selain luka-luka tentunya. Namun keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana menolong korban patah tulang, membuat kita hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Disaat seperti itu, menunggu datangnya pertolongan dokter bukanlah hal yang bijak karena ada banyak hal yang terjadi (yang mungkin akan memperburuk kondisi si korban) karena tidak segera ditolong. Berikut ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan awal untuk menangani korban luka patah tulang:
Kenali ciri awal patah tulang dengan memperhatikan riwayat trauma yang terjadi karena; benturan, terjatuh atau tertimpa benda keras yang menjadi alasan kuat pasien mengalami patah tulang. Biasanya, pasien akan mengalami rasa nyeri yang amat sangat dan bengkak hingga terjadinya perubahan bentuk yang kelihatannya tidak wajar (seperti; membengkok atau memuntir).
Jika ditemukan luka yang terbuka, bersihkan dengan antiseptik dan usahakan untuk menghentikan pendarahan dengan dibebat atau ditekan dengan perban atau kain bersih.
Lakukan reposisi (pengembalian tulang yang berubah ke posisi semula) namun hal ini tidak boleh dilakukan secara paksa dan sebaiknya dilakukan oleh para ahli atau yang sudah biasa melakukannya.
Pertahankan daerah patah tulang dengan menggunakan bidai/ papan dari kedua sisi tulang yang patah untuk menyangga agar posisinya tetap stabil.

PENGOBATAN
Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagai mana mestinya. Proses penyembuhan memelukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama.
Setelah sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi. Pada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan. Dengan pengobatan ini biasanya patah tulang selangka (terutama pada anak-anak), tulang bahu, tulang iga, jari kaki dan jari tangan, akan sembuh sempurna. Patah tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (imobilisasi). Imobilisasi bisa dilakukan melalui:
1.Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
2.Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah
3.Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang pinggul.
4.Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi.
Imobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut, karena itu sebagian besar penderita perlu menjalani terapi fisik. Terapi dimulai pada saat imobilisasi dilakukan dan dilanjutkan sampai pembidaian, gips atau traksi telah dilepaskan. Pada tulang tertentu ( terutama patah tulang pinggul ), untuk mencapai penyembuhan total, penderita perlu menjalani terapi fisik selama 6-8 minggu ayau kadang lebih lama lagi..

DIABETES, THE SILENT KILLER

Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri. Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya. Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Berikut ini hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang diabetes untuk meningkatkan kesadaran akan diabetes :

Apa sih Diabetes Mellitus?

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.
Nah, berapa kadar gula darah yang disebut tinggi? Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan pada tes sewaktu >200 mg/dL.
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya. Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi.

Ketahui Penyebab & Tipe Diabetes Mellitus
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin. Ada 2 tipe Diabetes Mellitus, yaitu:
1.Diabetes Mellitus tipe 1 (diabetes yang tergantung kepada insulin)
2.Diabettes Mellitus tipe 2 (diabetes yang tidak tergantung kepada insulin, NIDDM)
Diabetes Mellitus tipe 1 :
Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin
Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja.
Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik.
90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur
Diabetes Mellitus tipe 2
Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif
Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun
Faktor resiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas.
Diabetes Mellitus tipe 2 juga cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga

Penyebab diabetes lainnya adalah:
Kadar kortikosteroid yang tinggi
Kehamilan diabetes gestasional), akan hilang setelah melahirkan.
Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.
Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

Sulitnya Membaca Gejala Diabetes :

Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibatnya, maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.
Diabetes Mellitus tipe 1 :
Timbul tiba-tiba.
Berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum.
Diabetes Mellitus tipe 2 :
Tidak ada gejala selama beberapa tahun. Jika insulin berkurang semakin parah maka sering berkemih dan sering merasa haus.
Jarang terjadi ketoasidosis.

Pada penderita diabetes tipe 1, terjadi suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Meskipun kadar gula di dalam darah tinggi tetapi sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, sehingga sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sumber untuk energi dapat berasal dari lemak tubuh. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah.
Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.
Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe 1 bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius. Penderita diabetes tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

Mendiagnosis Diabetes Mellitus :

Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejalanya yaitu 3P (polidipsi, polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi (tidak normal). Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan. Perlu perhatian khusus bagi penderita yang berusia di atas 65 tahun. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa dan jangan setelah makan karena usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.
Kriteria Diagnostik Gula darah (mg/dL)
Bukan Diabetes Pra Diabetes Diabetes
Puasa < 110 110-125 > 126
Sewaktu < 110 110-199 > 200

Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil. Hal ini untuk mendeteksi diabetes yang sering terjadi pada wanita hamil. Penderita berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita diminta meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa. Hasil glukosa contoh darah dibandingkan dengan kriteria diagnostik gula darah terbaru yang dikeluarkan oleh PERKENI tahun 2006.

Sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2, biasanya selalu menderita pra-diabetes, yang memiliki gejala tingkat gula darah lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa diabetes. Setidaknya 20% dari populasi usia 40 hingga 74 tahun menderita pra-diabetes.

Penelitian menunjukkan beberapa kerusakan dalam jangka panjang, terutama pada jantung dan sistem peredaran darah selama pra-diabetes ini. Dengan pre-diabetes, anda akan memiliki resiko satu setengah kali lebih besar terkena penyakit jantung. Saat Anda menderita diabetes, maka risiko naik menjadi 2 hingga 4 kali.
Akan tetapi, pada beberapa orang yang memiliki pra-diabetes, kemungkinan untuk menjadi diabetes dapat ditunda atau dicegah dengan perubahan gaya hidup. Diabetes dan pra-diabetes dapat muncul pada orang-orang dengan umur dan ras yang beragam, tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi.

Komplikasi Diabetes Bisa Mematikan :

Diabetes merupakan penyakit yang memiliki komplikasi (menyebabkan terjadinya penyakit lain) yang paling banyak. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi terus menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.
Sirkulasi darah yang buruk ini melalui pembuluh darah besar (makro) bisa melukai otak, jantung, dan pembuluh darah kaki (makroangiopati), sedangkan pembuluh darah kecil (mikro) bisa melukai mata, ginjal, saraf dan kulit serta memperlambat penyembuhan luka.
Penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke.
Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah (dialisa).
Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah.
Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan (polineuropati diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan.
Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meradakan perubahan tekanan maupun suhu. Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.

Terapi Untuk Diabetes Mellitus :
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan.
Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat.

Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur.
Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral.
Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin.

Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu:
1.Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
2.Terapi Sulih Insulin

1. Obat hipoglikemik oral

Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.
Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.
Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup.
Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian.
Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.

2. Terapi Sulih Insulin

Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan).
Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.
Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.
Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:

Insulin kerja cepat.
Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam.Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.

Insulin kerja sedang.
Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.

Insulin kerja lambat.
Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.
Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.
Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:
* Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya
* Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya
* Aktivitas harian penderita
* Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya
* Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam. Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari. Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga. Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya. Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.
Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.

Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.
Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi. Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.

Mencegah Bahaya Komplikasi :

Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari pengobatan diabetes. Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih; tetap pemeriksaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan. Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh penderita di rumah menggunakan alat pengukur glukosa darah. Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat hipoglikemiknya dapat disesuaikan. Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah sehingga terjadi hipoglikemia. Hipoglikemia (rendahnya kadar gula dalam darah) juga bisa terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan.
Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena pengaruhnya adalah otak. Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai membuat glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati. Proses ini melibatkan pelepasan epinefrin (adrenalin), yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran. Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.
Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap. Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula.

Oleh sebab itu, penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.

Penderita diabetes tipe I harus selalu membawa glukagon, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat memakan makanan yang mengandung gula.Gejala-gejala dari kadar gula darah rendah:
* Rasa lapar yang timbul secara tiba-tiba
* Sakit kepala
* Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba
* Badan gemetaran
* Berkeringat
* Bingung
* Penurunan kesadaran, koma.

Ketoasidosis diabetikum merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma bahkan kematian. Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif. Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium, kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air kemih yang berlebihan. Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera dan dosisnya disesuaikan. Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam, sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan. Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.

Pengobatan untuk koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik sama dengan pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum yaitu diberikan cairan dan elektrolit pengganti. Kadar gula darah harus dikembalikan secara bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak terlalu berat.
Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang secara progresif. Retinopati diabetik dapat diobati secara langsung dengan pembedahan laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda atau diperlambat dengan mengontrol kadar gula darah. Mengontrol kadar gula darah dapat dilakukan dengan terapi misalnya patuh meminum obat.

Hindari Diabetes dengan Ubah Gaya Hidup :

Faktor keturunan memiliki pengaruh apakah seseorang dapat terkena diabetes atau tidak. Selain keturunan, gaya hidup juga berperan besar. Diabetes tipe 2 sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas atau kegemukan merupakan pemicu terpenting penyebab diabetes.
Obesitas artinya berat badan berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan idaman. Juga berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2. Lemak yang berlebih akan menyebabkan resistensi terhadap insulin. Ini menjelaskan mengapa diet dan olahraga merupakan metode penatalaksanaan untuk diabetes tipe 2.
Dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot, akan mengurangi jumlah lemak sehingga membantu tubuh memanfaatkan insulin dengan lebih baik. Ternyata ada hubungan antara diabetes tipe 2 dengan letak tumpukan lemak terbanyak. Bila timbunan lemak terbanyak terdapat di perut maka risiko terkena diabetes lebih tinggi.
Para peneliti juga percaya bahwa gen yang membawa sifat obesitas ikut berperan dalam menyebabkan diabetes. Gen yang bernama gen obes ini mengatur berat badan melalui protein pemberi kabar apakah kita lapar atau tidak. Pada percobaan dengan tikus, bila gen ini bermutasi maka tikus akan menjadi obes dan mengalami diabetes tipe 2.

Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di depan TV dan komputer. Menonton TV akan menyebabkan tidak bergerak juga berpengaruh terhadap pola makan mengemil.Bagaimana cara mengatasi kegemukan untuk menghindari diabetes?
Caranya mudah, murah dan efektif, antara lain:
1.Membiasakan diri untuk hidup sehat
2.Biasakan diri berolahraga secara teratur
3.Hindari menonton TV atau main komputer terlalu lama
4.Jangan mengkonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan garam yang tinggi.
5.Hindari makanan siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
6.Konsumsi sayuran dan buah-buahan.

Puasa Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Setelah puasa Ramadhan kita akan kembali menjalani kehidupan seperti sebelum Ramadhan. Hari Raya Lebaran merupakan minggu ujian bagi kita semua terutama yang melaksanakan puasa dan berlebaran. Berbagai penyakit dapat timbul seputar dan setelah lebaran. Secara garis besar apa saja sih yang harus kita ketahui mengenai penyakit seputar lebaran ini. Perlu dikhawatirkan dan apa apa saja yang harus di antisipasi. Khawatir mungkin boleh, tapi tahu lebih awal dan waspada terhadap gejalanya kan lebih baik. Karena mencegah dan waspada akan lebih baik dampaknya untuk kita.
Ada tiga kategori penyakit yang biasanya datang seputar lebaran, penyakit-penyakit yang muncul itu antara lain :

A.Infeksi Saluran Pernapasan dan Infeksi Saluran Pencernaan
Penyakit yang biasa muncul akibat mudik adalah penyakit infeksi pernafasan atas (ISPA) dan diare. Perjalanan mudik lebaran melalui jalur darat terutama yang menggunakan bus, kereta api atau naik ferry merupakan sesuatu yang melelahkan. Berdesak-desakan, kurang istirahat selama perjalanan dan barang bawaan yang berlebih merupakan keadaan yang umumnya dialami oleh seorang pemudik. Selain itu konsumsi makanan dan minuman selama perjalanan yang tidak memadai memungkinkan seorang pemudik mengalami penurunan daya tahan tubuh dan mudah sakit terutama infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan seperti diare dan demam tifus. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya angka kunjungan pasien dengan infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan yang tinggi dirumah sakit.Sesampainya di kampung para pemudik lebih mengutamakan bertemu sanak famili dari pada istirahat setelah perjalanan mudik yang melelahkan dan hal ini tentunya akan memperburuk kondisi kesehatan para mudik tersebut.

B.Penyakit yang Kambuh Saat Lebaran
Berbagai penyakit kronik umumnya cenderung akan mengalami kekambuhan setelah lebaran. Sebagai mana diketahui budaya lebaran adalah budaya silahturahmi berkunjung kerumah sanak keluarga dan kerabat. Selama berkunjung ini biasanya menkomsumsi berbagai makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang disediakan ini biasanya akan lebih banyak dan bervariasi. Umumnya makanan dan minuman tersebut tinggi lemak, manis-manis dan asin. Berbagai minuman kaleng yang bersoda juga disediakan selama lebaran. Tentunya apabila makanan minuman ini jika dikonsumsi oleh seseorang yang sudah mempunyai penyakit kronik, akan menyebabkan penyakitnya mengalami kekambuhan. Pasien dengan penyakit kencing manis akan cenderung gula darahnya menjadi tidak terkontrol karena mengkonsumi makanan yang manis dan dalam jumlah yang banyak. Pasien dengan penyakit darah tinggi tekanan darahnya menjadi tidak terkontrol karena kurang memperhatikan makanannya terutama makanan yang asin-asin. Pasien dengan hiperkolesterol atau asam urat tinggi maka keadaan kolesterol dan asam urat tingginya menjadi bertambah parah sekali lagi karena tidak mengkontrol makanannya.

C.Penyakit Yang Timbul Karena Hygiene dan Sanitasi
Biasanya saat lebaran pembantu rumah tangga juga ikut pulang kampung sehingga rumah kurang bersih. Sampah yang bertumpuk dan belum terangkat. Keadaaan ini biasanya menyebabkan lebih banyak lalat pada sampah yang bertumpuk tersebut, tikus-tikus akan lebih banyak berkeliaran karena begitu banyak sampah yang menumpuk selain itu juga nyamuk akan lebih banyak. Binatang yang kotor keberadaannya akan membawa dampak juga bagi kesehatan kita. Lalat membawa berbagai penyakit infeksi usus baik yang hanya diare sampai yang berat seperti demam thypoid. Tikus merupakan faktor yang penting untuk terjadi penyakit demam kuning atau leptospirosis. Nyamuk terutama yang berada sekitar rumah tentu akan menjadi sumber penyakit jika nyamuk tersebut merupakan nyamuk aedes aegypti yang membawa virus DHF. Kecenderungan menyimpan makanan sebanyak-banyaknya di kulkas sering terjadi karena Pembantu tidak ada. Selain itu juga ada kecenderungan untuk menyimpan makanan di meja makan atau pada suhu kamar dalam waktu yang lama. Sehingga pada saat dikomsumsi selanjutnya, lupa untuk dipanaskan kembali, sehingga makanan yang terkontaminasi bakteri yang kebetulan hidup pada makanan yang tersebut. Jadi jangan lupa memanaskan makanan

Sedia selalu stok obat

Kali ini kita mencoba berbagi seputar persiapan obat-obatan. Walau nampak sepele, gak ada salahnya kita bahas, dengan harapan dapat membantu bagi yang memerlukan. Hal ini wajar mengingat saat Lebaran tidak mudah menemui dokter. Secara umum, obat yang perlu dibawa sebagai bekal mudik adalah obat-obat yang biasa digunakan atas rekomendasi dokter (dokter langganan) atau obat daftar W (obat bebas) yang emang biasa dipakai dan dirasa dapat membantu mengurangi keluhan tertentu. Meski begitu, kita tetap akan membuat daftar sederhana obat-obat bekal mudik sekaligus ringkasan khasiat dan dosisnya. Setidaknya diharapkan dapat membantu sebelum pergi ke dokter jika memang diperlukan ke dokter.

Obat Anti Mabuk ( anti muntah)
Obat golongan ini biasa digunakan untuk mencegah mabuk, mual dan vertigo. Untuk mencegah mabuk, diminum sekitar 30 menit sebelum naik kendaraan (paling bagus dalam keadaan perut kosong). Untuk keluhan seperti ini biasanya dipergunakan Dimenhydrinate 50 mg ( Antimo). Obat golongan Domperidone (Dometa, Vometa, Vomitas). Digunakan untuk anti mual-muntah dan diminum dalam keadaan perut kosong.

Obat Penurun Panas.
Parasetamol atau Asetaminofen. Selain untuk penurun panas, dapat juga digunakan untuk pereda sakit kepala ringan. Untuk anak-anak sebaiknya dalam bentuk sirup.

Analgesik ( pereda nyeri )
Obat-obat ini lazim digunakan untuk sakit kepala, sakit gigi, nyeri sendi dan tulang, nyeri otot. Untuk menghindarkan reaksi alergi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Obat Asma
Bagi penderita asma, silahkan membekali diri dengan obat-obat yang udah biasa diberikan oleh dokter. Jenis dan bentuk sediaannya beragam. Berdasarkan bentuknya, ada yang berbentuk tablet, kapsul, kaplet, sirup, semprot, suntikan. Sedangkan berdasarkan kandungannya juga banyak. (Teofilin, Aminofilin, dll).

Antasida (yang berhubungan dengan keluhan lambung)
Obat-obat untuk menanggulangi keluhan lambung seperti: mual, rasa penuh di lambung, nyeri, perih ulu hati, kembung sangat beragam. Silahkan menghubungi dokter masing-masing untuk bekal mudik Lebaran.

Selain obat-obat di atas, pada umumnya kita udah tahu obat-obat yang diperlukan dalam perjalanan hingga kembali ke rumah, misalnya: obat untuk batuk pilek, obat rhinitis alergika (pilek, bersin, buntu), obat alergi, dan lain-lain.

Adakalanya seseorang memerlukan bekal obat yang biasa diminum dalam jangka panjang, misalnya: obat diabet, obat anti hipertensi, obat jantung dan lain-lain. Untuk itu, sebelum mudik seyogyanya minta resep ke dokter langganan masing-masing atau nebus obat ke dokter dispensing bagi yang tinggal di ndeso dan gak ada apotik, agar setidaknya dapat menanggulangi untuk sementara jika tanpa disangka mengalami gangguan kesehatan.

Pada akhirnya, antisipasi mengenai penyakit seputar lebaran merupakan hal penting dan layak untuk kita sampaikan kepada masyarakat kita, agar mereka tetap waspada akan berbagai penyakit yang timbul seputar lebaran.

Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Batin

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!